Sabtu, 03 Agustus 2013

Kepemimpinan Spiritual




Kepemimpinan Spiritual

MAKALAH

Diajukan Sebagai Salah Satu Tugas
Pendidikan Akhlak dan Budi Pekerti
di Universitas Negeri Padang






disusun oleh kelompok 5 :


Putri Melco/1200982

Mardhatillah/1200983

Ito Wardiah/1200984
Peni Fitri/1200985



PROGRAM STUDI PENDIDIKAN BAHASA DAN SASTRA INGGRIS
JURUSAN BAHASA DAN SASTRA INGGRIS
FAKULTAS BAHASA DAN SENI
UNIVERSITAS NEGERI PADANG
2013



KATA PENGANTAR

            Puji dan syukur penulis panjatkan kehadirat Allah SWT yang telah memberikan limpahan rahmat dan hidayahNya sehingga makalah yang bertemakan Manusia dan Lingkungan ini dapat diselesaikan dengan baik. Selanjutnya, penulis sampaikan shalawat serta salam semoga dilimpahkan kepada Nabi besar Muhammad SAW, pada keluarganya, sahabatnya, dan kita sebagai umatnya.
          Makalah yang bertemakan “Kepemimpinan spiritual” ini, secara khusus mendeskripsikan tentang   kecerdasan spritual, kepemimpinan pendidikan dan kepemimpinan spritual, kriteria seorang pemimpin dalam konteks kepemimpinan spiritual, pemimpin spiritual dalam pengembangan pendidikan Islam dan peran yang dilakukan pemimpin dalam mengembangkan pendidikan Islam . Makalah ini disusun sebagai tugas dari Mata Kuliah Pendidikan Akhlak dan Budi Pekerti.
Penulis mengucapkan terima kasih kepada semua pihak yang telah membantu sehingga penulis dapat menyelesaikan makalah ini dengan baik.
Penulis menyadari bahwa makalah ini masih jauh dari sempurna, tetapi mudah-mudahan makalah ini dapat bermanfaat bagi penulis dalam mencari ilmu, dan untuk para pembaca semua dalam menambah pengetahuan. Untuk itu penulis mengharapkan kritik dan saran yang sifatnya membangun guna menyempurnakan makalah ini.

Padang,  November 2012


Penulis
 


BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
          Pendidikan di Indonesia ini masih berorientasi pada pragmatism, yakni di arahkan untuk  penyediaan sumber daya manusia berkualitas. Sehingga dengan  hal tersebut, pembangunan dapat dilaksanakan secara cepat. Namun, konsep pendidikan Indonesia belum mampu menyentuh dimensi humanity dimana manusia hanya dianggap menjadi produk capital dan sebagai alat untuk mengembangkan modal dengan berdasarkan dari materialistic. Berdasarkan hal tersebut, keberhasilan pendidikan yang didasarkan pada teori human capital diukur dari seberapa besar rate of return pendidikan terhadap pembangunan ekonomi.
          Pada dasarnya, manusia merupakan makhluk social dan spiritual. Dan menurut Paulo Freire, hakikatnya manusia mampu melakukan trasndensi dengan semua realistis yang melingkupnya. Dengan hal itu, manusia akan mengkonstruksi kesadaran integral tanpa merduksi konsep “kesatuan mistik universum” dalam dirinya. Sehingga dengan kesatuan tersebut dapat menimbulakan sifat humanity dan menuju insane kamil. Sebagaimana hakikat dari tujuan pendidikan Indonesia adalah untuk membentuk insane paripurna, baik didunia maupun di akhirat.
          Maka, untuk mewujudkan peruban pendidikan Indonesia secara menyeluruh, maka perlu memprioritaskan manajemen pendidikan untuk mewujudkan tujuan pendidikan. Dalam hal ini, yang paling berperan aktif adalah educational leadership yang mengatur, mengorganisasikan, menggerakkan dan mengontrol pola pergerakan pendidikan. Dan untuk itu seorang pemimpin perlu memiliki dan mengintegralkan serta menyeimbangkan Intelligence Quotient, Emotional Quotient dan Spritual Quotient. Dan makalah ini akan membahas tentang Spiritual Educational Leadership.
B. Rumusan Masalah
          Dari latar belakang masalah yang penulis uraikan, terdapat beberapa permasalahan yang penulis dapatkan. Permasalahan tsb antara lain :
v   Apa itu Kecerdasan Spritual, Kepemimpinan Pendidikan dan Kepemimpinan Spritual?
v   Bagaimana kriteria seorang pemimpin dalam konteks kepemimpinan spiritual?
v   Bagaimana cara pemimpin spiritual dalam pengembangan pendidikan Islam? Dan peran apa saja yang dilakukan dalam mengembangkan pendidikan Islam?
C. Tujuan Penulisan
Adapun tujuan penulisan makalah ini adalah
·                Melatih penulis menyusun makalah dalam upaya lebih meningkatkan pengetahuan dan kreatifitas.
·                Agar mahasiswa lebih memahami dan mendalami pokok bahasan khususnya tentang kepemimpinan spiritual.
·                Agar bisa menjadi masukan edukatif bagi mahasiswa dalam memahami materi tentang Kepemimpinan spiritual.
·                Untuk memenuhi salah satu tugas Pendidikan Akhlak dan Budi Pekerti.

BAB II
PEMBAHASAN

A.           Hakikat Kecerdasan Spritual, Kepemimpinan Pendidikan dan Kepemimpinan Spritual
          Istilah “Spritual” berasal dari kata dasar bahasa Inggris yaitu “sprit” yang memiliki cakupan makna: jiwa, arwah/roh, semangat, hantu, moral dan tujuan atau makna yang hakiki. Sedangkan dalam bahasa Arab, istilah spiritual terkait dengan yang ruhani dan ma’nawi dari segala sesuatu.
          Makna inti dari kata sprit bermuara kepada kehakikian, keabadian dan ruh, bukan yang bersifat sementara dan tiruan. Dalam perspektif Islam, dimensi spritualitas senantiasa berkaitan secara langsung dengan realistis Ilahi, Tuhan Yang Maha Esa (tauhid). Spritualitas bukan sesuatu yang asing bagi manusia, karena spritualitas merupakan inti dari kemanusiaan itu sendiri. Manusia terdisi dari unsure material dan spiritual atau unsure jasmani dan ruhani. Sedangkan perilaku manusia merupakan produk tarik menarik antara energy spiritual dan material atau antara dimensi ruhaniah atau jasmaniah. Dorongan spiritual senantiasa membuat kemungkinan membawa dimensi material manusia kepada dimensi spritualnya (ruh, keilahian)
          Spiritual Quotient  (SQ) merupakan kecerdasan untuk menghadapi dan memecahkan persoalan makna dan nilai hidup, menempatkan perilaku dalam konteks makna secara lebih luas. Menurut Zohar (dalam Abd. Wahab:2011) SQ merupakan syarat mutlak bagi berfungsinya IQ dan EQ secara efektif. SQ telah ada dalam diri manusia sejak lahir. Hal ini ditujuksn untuk membantu manusia dalam membangun dirinya secara utuh. Dalam perjalanan kehidupan manusia, tidak hanya berdasarkan pada resiko saja, melainkan juga menggunakan hati nurani sebagai pusat SQ. karena kebenaran sejati sebenarnya lebih terletak pada hati nurani, bahkan menurut N. Dyakarya secara ekstrim berpendapat bahwa suara nurani merupakan suara Tuhan.
Sedangkan hakikat dari kepemimpinan spiritual adalah suatu kegiatan memengaruhi orang lain agar orang tersebut dapat bekerja sama untuk mencapai tujuan yang telah ditetapkan. Disini pemimpin merupakan factor penentu dalam keberhasilan suatu organisasi atau usaha. Sebab seorang pemimpin di tuntut untuk mampu mengelola organisasi, memengaruhi secara konstruktif orang lain, dan menunjukkan perilaku benar yang harus dikerjakan bersama-sama serta memengaruhi semangat kerja kelompok.
          Pendidikan secara umum merupakan usaha atau proses yang dilakukan secara sadar oleh orang dewasa untuk mendidik dan mengajar anak didik agar mereka dapat mencapai kedewasaan. Maka dari uraian tersebut kepemimpinan pendidikan adalah suatu kesiapan, kemampuan yang dimiliki oleh seseorang dalam proses mempengaruhi, mendorong, membimbing, mengarahkan dan menggerakkan orang lain yang ada hubungannya dengan pelaksanaan dan pengembangan pendidikan dan pengajaran agar segenap kegiatan dapat berjalan secara efektif dan efisien, yang pada gilirannya dapat mencapai tujuan pendidikan dan pengajaran yang telah ditetapkan.

          Kepemimpinan Spiritual adalah kepemimpinan yang membawa dimensi keduniawian kepada dimensi spiritual (keilahian). Kepemimpinan yang mampu mengilhami, membangkitkan, mempengaruhi dan menggerakkan melalui keteladanan, pelayanan, kasih saying dan implementasi nilai dan sifat-sifat ketuhanan yang lainnya dalam tujuan, proses, budaya dan perilaku kepemimpinan.

B.            Karasteristik Kepemimpinan Spiritual

          Seiring dengan ditemukannya konsep kecerdasan spiritual yang justru dianggap sebagai the ultimate intelligence dan sebagai pondasi yang diperlukan bagi keefektifan dua kecerdasan yang lain yakni IQ dan EQ. sebagaiman yang diuraikan diatas, kepemimpinan spiritual adalah kepemimpinan yang berbaris pada etika religious, kepemimpinan atas nama Tuhan, yaitu kepemimpinan yang terilhami oleh perilaku etis Tuhan dalam memimpin makhluk-makhluk-Nya.
          Adapun karasteristik dari kepemimpinan spiritual sebagaimana yang disampaikan oleh prof. Dr. Tobroni dalam “Spiritual Leadership The Problem Solver Krisis” Kepemimpinan dalam Islam berikut ini:
1.             Kejujuran Sejati
Rahasia sukses para pemimpin besar dalam mengembangkan misinya adalah memegang teguh kejujuran. Berlaku jujur senantiasa membawa kepada keberhasilan dan kebahagiaan pada akhirnya, walaupun mungkin pada awal terasa pahit.

2.             Fairness
Pemimpin spiritual mengemban misi social untuk menegakkan keadilan dimuka bumi , baik adil terhadap diri sendiri, keluarga, dan orang lain. Bagi para pemimpin spiritual, menegakkan keadilan bukan sekedar kewajiban moral religious dan tujuan akhir dari sebuah tatanan social yang adil, melainkan sekaligus dalam proses dan prosedurnya untuk keberhasilan kepemimpinannya.
3.             Semangat amal Shaleh
Kebanyakan pemimpin suatu lembaga, mereka sebenarnya bekerja bukan untuk orang dan lembaga yang dipimpin, melainkan untuk “keamanan”, “kemapanan”, dan “kejayaan” dirinya. Tetapi kepemimpinan spiritual bersikap berbeda, yakni bekerja karena panggilan dari hati nurani ysng ditujukan semata-mata untuk mengharap ridho Allah.
4.             Membenci formalitas dan organized religion
Bagi seorang spiritualis, formalitas tanpa isi bagaikan pepesan yang kosong. Organized religion biasanya hanya mengedepankan dogma, peraruran perilaku dan hubungan social yang terstruktur yang berpotensi memecah belah. Tindakan formalitas perlu dilakukan untuk memperkokoh makna dari substansi tindakan itu sendiri dan dalam rangka merayakan sebuah kesuksesan, kemengangan. Pemimpin spiritual lebih mengedepankan tindakan yang genuine dan substantive.
5.             Sedikit bicara banyak kerja dan santai
Banyak bicara banyak salahnya, banyak musunya, banyak dosanya serta sedikit kontemplasinya dan sedikit karyanya. Seorang pemimpin spiritual adalah pemimpin yang sedikit bicara banyak bekerja. Ia lebih mengedepankan pekerjaan secara efisien dan efektif.
6.             Membangkitkan yang terbaik bagi diri sendiri dan orang lain
Sebagaimana ditemukan dimuka, pemimpin spiritual berupaya mengenali jati dirinya dengan sebaik-baiknya. Upaya mengenali jati diri itu juga dilakukan terhadap orang lain. Dengan mengenali jati diri ia dapat membangkitkan segala potensinya dan dapat bersikap secara bijaksana dalam berbagai situasi.
7.             Keterbukaan menerima perubahan
“perubahan” adalah kata yang paling disukai oleh kelompok yang tertindas  dan sebaliknya paling ditakuti oleh kelompok mapan. Pemimpin biasanya dikategorikan sebagai kelompok mapan dan pada umumnya berusaha menikmati kemapanannya dengan menolak perubahan. Kalaupun ia gencar mengadakan perubahan adalah dalam rangka mempertahankan atau mengamankan posisinya.
Pemimpin spiritual berbeda dengan pemimpin pada umumnya. Ia tidak alergi dengan perubahan dan tidak penikmat kemapaman. Pemimpin spiritual memiliki rasa hormat bahkan rasa senang dengan perubahan yang menyentuh diri mereka yang paling dalam sekalipun.
8.             Pemimpin yang dicintai
Pemimpin pada umumnya sering tidak peduli apakah mereka dicintai para karyawannya atau tidak. Bagi mereka dicintai atau dibenci itu tidak penting, yang penting dihormati dan memperoleh legitimasi sebagai pemimpin. Bahkan sebagian diantara mereka merasa tidak perlu dicintai karena hal itu akan menghalngi dalam mengambil keputusan yang sulit yang menyangut persoalan karyawannya. Pernyataan ini mungkin ada benarnya, akan tetapi bagi pemimpin spiritual kasih sayang sesame justru merupakan ruh (elan vital sprit) sebuah organisasi. Cinta kasih bagi pemimpin spiritual bukanlah cinta kasih dalam pengertian sempit yang dapat mempengaruhi obyektifitas dalam pengambilan keputusan dan memperdayakan kinerja lembaga, tetapi cinta kasih yang memberdayakan, cinta kasih yang tidak semata-mata bersifat perorangan, tetapi cita kasih struktual yaitu cinta terhadap ribuan orang dipimpinnya.
9.             Think Globally and act locally
Statemen di atas merupakan visi seorang pemimpin spiritual. Memliki visi jauh kedepan dengan focus perhatian kekinian dan kedisinian. Dalam hal yang paling abstrak (sprit, soul, ruh) saja ia dapat meyakini, memahami dan menghayati, maka dalam kehidupan nyata ia tentu lebih dapat memahami dan menjelaskan lagi walaupun kenyataan itu merupakan cita-cita masa depan. Ia memiliki kelebiha untuk menggambarkan idealita masa depan secara mendetail dan bagaimana mencapainya kepada orang lain seakan-akan gambaran masa depan itu sebuah realitas yang ada didepan mata. Disiplin tetapi fleksibel dan tetap cerdas dan penuh gairah.
10.         Kerendahan hati
Seorang pemimpin spiritual menyadari sepenuhnya bahwa semua kedudukan, prestasi, sanjungan dan kehormatan itu bukan karena dia dan bukan untuk dia, melainkan karena dan untuk Dzat Yang Maha Terpuji.



C.           Spiritual Leader sebagai pemecahan masalah pendidikan di Indonesia

          Sebagaimana yang diuraikan di atas, bahwa masalah-masalah pendidikan di Indonesia sekarang ini dapat diatasi melalui spiritual leadership. Dengan kata lain pemimpin spiritual adalah factor utama terjadinya perubahandari suatu lembaga pendidikan untuk meraih prestasi. Implementasi puncak etika religus dalam kehidupan sehari-hari akan melahirkan orang yang memiliki komitmen dan dedikasi, sabar, rela berkorban, berjuang tanpa kenal lelah dan ihlas. Inilah orang yang memiliki spiritualitas, orang yang mampu menjadi soko guru tegaknya lembaga pendidikan.
          Bagaimana pemimpin spiritual dalam pengembangan pendidikan Islam? Dan peran apa saja yang dilakukan dalam mengembangkan pendidikan Islam? Untuk masalah itu prof. Dr. Tobroni mengungkapkan bahwa sebagaimana berikut:
1.             Sebagai pembaharu
Keberhasilan pemimpin spiritual dalam mengembangkan pendidikan tidak lepas dari perannya sebagi pembaharu. Gagasan-gagasan atau ide-ide baru senantiasa keluar dari hasil kontemplasi, penjajahan, dan pengembaraan intelektualnya yang luas.
2.             Pemimpin spirirtual sebagai pemimpin organisasi pendidikan
Sebagaimana dikemukakan dalam pembahsan sebelumnya, lembaga penididkan merupakan lembaga industry yang mulia yang merupakan gabungan dari lembaga yang bersifat profit seperti perusahaan, industry dan jasa dan lembaga non profit seperti lembaga social kemasyarakatan, dan lembaga dakwah lainnya.
3.             Pemimpin spiritual sebagai administrator proses pembelajaran
Kepala sekolah selama ini lebih banyak berperan sebagai administaror pembelajaran. Tugas mereka seakan selesai apabila proses pembelajaran dapat berlangsung dengan lancer dan tertib. Pemimpin spiritual memandang tugas sebagi administrator sebagi tugas rutin dank arena itu diserahkan pelaksanaanya kepada masing-masing pemimpin atau unit. Posisi pemimpin spiritual dalam hal ini berperan sebagai pengilhaman, pencerahan dan pembangkitan
4.             Pemimpin spirirtual sebagai pendidik
Salah satu kekuatan yang menyebabkan pemimpin spiritual berhasil dalam mengembangkan pendidikan adalah karena perannya sebagai pendidik (murabbi). Didepan muridnya ia tetap seorang gru yang mau menyapa dan peduli sehingga memiliki hubungan yang harmoni, dekat akrab dan khurmah. Didepan guru dan karyawan ia adalah seorang teman, sesame guru yang senasip dan seperjuangan. Di lihat dari proses pembelajaran di lembaga pendidikan pemimpin spiritual terbukti mampu mengefektifkan proses pembelajaran dan melakukan berbagai inovasi. 

BAB III
PENUTUP
A.    Kesimpulan
            Spiritual Quotient (SQ) merupakan kecerdasan untuk menghadapi dan memecahkan persoalan makna dan nilai hidup, menempatkan perilaku dalam konteks makna secara lebih luas. Kepemimpinan pendidikan adalah suatu kesiapan kemampuan yang dimiliki oleh seseorang dalam proses mempengaruhi, mendorong, membimbing, mengarahkan dan menggerakkan orang lain yang ada hubungannyadengan pelaksanaan dan pengembangan pendidikan dan pengajaran agar segenap kegiatan dapat berjalan secara efektif dan efesien, yang pada giliriannya dapat mencapai tujuan pendidikan dan pengajaran yang telah ditetapkan. Kepemimpinan Spiritual adalah kepemimpinan yang membawa dimensi  keduniawian kepada dimensi keilahian.
            Adapun karakteristik pemimpin spiritual yakni Kejujuran Sejati Fairness, Semangat amal Shaleh, Membenci formalitas dan organized religion, Sedikit bicara banyak kerja dan santai, Membangkitkan yang terbaik bagi diri sendiri dan orang lain, Keterbukaan menerima perubahan, Pemimpin yang dicintai .Think Globally and act locally, Kerendahan hati.
Dan peran pemimpin spiritual dalam memcahkan permasalah pendidikan dpat ditinjau dari beberpa aspek yang diantaranya nadalah sebagai pembahru Pemimpin spirirtual sebagai pemimpin organisasi pendidikan Pemimpin spiritual sebagai administrator proses pembelajaran, Pemimpin spirirtual sebagai pendidik.
B.     Saran
Sangat diperlukan sekali jiwa kepemimpinan pada setiap pribadi manusia. Jiwa kepemimpinan itu perlu selalu dipupuk dan dikembangkan. Paling tidak untuk memimpin diri sendiri.
Jika saja Indonesia memiliki pemimpin yang sangat tangguh tentu akan menjadi luar biasa. Karena jatuh bangun kita tergantung pada pemimpin. Pemimpin memimpin, pengikut mengikuti. Jika pemimpin sudah tidak bisa memimpin dengan baik, cirinya adalah pengikut tidak mau lagi mengikuti. Oleh karena itu kualitas kita tergantung kualitas pemimpin kita. Makin kuat yang memimpin maka makin kuat pula yang dipimpin.
DAFTAR PUSTAKA
Asmani jamal Ma’mur. 2009. Manajemen pengelolaan dan kepemimpinan pendidikan professional. Yogyakarta. Diva Press
Baharuddin, 1994 Analisa Administrasi Managemen dan Kepemimpinan Pendidikan. Jakarta : Bumi Askara
Burso dan Dirawat. 1983 Pengantar kepemimpinan pendidikan. Surabaya : Usaha Nasional
Tobroni. Spiritual Leadrship The Problem Solver Krisis Kepemimpinan Dalam Pendidikan Islam
Wahab dan Umiarso. 2011 Kepemimpinan Pendidikan dan Kecerdasan Spiritual. Yogyakarta : Ar-Ruzz Media




Tidak ada komentar:

Posting Komentar